Bangkit Dari Kerugian USD 14 Juta Tahun 2024, BUMD PT BSP Kini Siap Jadi Tumpuan PAD Siak
Siak, Terbilang.id - Kebangkitan PT Bumi Siak Pusako (BSP) menjadi angin segar bagi keuangan daerah. Setelah sempat merugi hingga USD 14 juta pada 2024, perusahaan daerah sektor migas itu mencatat titik balik kinerja dengan proyeksi dividen mencapai USD 6 juta atau setara lebih dari Rp100 miliar pada 2026.
Sebuah lompatan yang tidak hanya memperbaiki neraca perusahaan, tetapi juga memperkuat posisi BSP sebagai salah satu penopang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Siak.
Komisaris BSP yang juga Asisten II Pemkab Siak, Herianto, menyebut capaian tersebut merupakan hasil evaluasi menyeluruh dan kebijakan strategis sejak Afni Zulkifli menjabat sebagai perwakilan pemegang saham mayoritas.
“Kami bekerja dari arahan dan kebijakan Ibu Bupati, dan hasilnya Alhamdulillah BSP mulai rebound dan dapat membukukan dividen yang insyaAllah mencapai USD 6 juta atau setara Rp100 miliar lebih di 2026,” ujar Herianto, Senin (2/3/2026).
Berdasarkan rapat internal bersama notaris, dividen interim yang dapat langsung dibagikan kepada pemegang saham mencapai USD 4,5 juta atau sekitar Rp75,9 miliar. Sisanya akan ditetapkan dalam RUPS tahunan setelah audit kantor akuntan publik rampung.
Dengan komposisi kepemilikan saham sebesar 72,29 persen, Pemerintah Kabupaten Siak diperkirakan menerima sekitar Rp52 miliar pada tahap awal pembagian dividen.
Adapun sisa kepemilikan saham tersebar pada Pemerintah Provinsi Riau (18,07 persen), Pemkab Kampar (6,02 persen), Pemkab Pelalawan (2,41 persen), serta Pemko Pekanbaru (1,21 persen).
Herianto menjelaskan, kebangkitan BSP tidak terjadi secara instan. Sejak terdampak persoalan operasional pada Maret 2023, manajemen melakukan efisiensi besar-besaran.
Langkah tersebut mencakup evaluasi kegiatan trucking atau pengangkutan minyak melalui jalur darat, hingga perubahan pola penjualan minyak mentah dari skema ekspor menjadi pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
Selain itu, sejumlah proyek nonkrusial ditunda dan struktur manajemen direstrukturisasi untuk memperkuat tata kelola perusahaan.
“BSP salah satu tulang punggung PAD Siak saat ini, sehingga kinerjanya harus terus dijaga,” tegas Herianto.
Dalam upaya memperkuat kontribusi sektor migas, Afni juga aktif berkonsultasi dengan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia serta Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto. Konsultasi tersebut bertujuan memastikan keberlanjutan produksi dan optimalisasi bagi hasil bagi daerah.
Tak berhenti pada capaian dividen, BSP menyiapkan tiga agenda besar pada 2026.
Pertama, pemenuhan kewajiban Komitmen Kerja Pasti (KKP) berupa pengeboran tujuh sumur sebagai bagian dari komitmen operasional.
Kedua, rencana kolaborasi pengadaan pipa baru guna menekan biaya trucking. Menurut Afni, pipa lama sudah tidak layak dan perlu diganti sebagai investasi jangka panjang demi efisiensi distribusi minyak.
Ketiga, penetapan direksi definitif melalui proses uji kelayakan dan kepatutan (UKK) secara profesional dan terbuka. Proses ini disertai evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan tata kelola kepegawaian.
“Yang penting itu output kerja wajib terukur, salah satunya dalam bentuk bagi hasil atau dividen BSP yang terjaga untuk kemaslahatan daerah,” tegas Afni di media sosialnya.
Kebangkitan BSP menjadi pesan kuat bahwa BUMD energi tetap memiliki daya saing jika dikelola dengan disiplin, efisiien, dan transparan. Kini, tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi agar tren positif ini benar-benar berkelanjutan—bukan sekadar momentum sesaat, melainkan fondasi fiskal jangka panjang bagi Siak. (*)


