Genjot Reforestasi Kawasan TNTN, Pemprov Riau Targetkan 66.704 Hektare Bisa Pulih Hingga 2028

Genjot Reforestasi Kawasan TNTN, Pemprov Riau Targetkan 66.704 Hektare Bisa Pulih Hingga 2028
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto

Pekanbaru, Terbilang.id - Upaya pemulihan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) terus digenjot. Pemerintah Provinsi Riau menargetkan reforestasi dan penataan kawasan konservasi tersebut rampung secara bertahap hingga 2028 dengan capaian pemulihan sekitar 66.704 hektare.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyebutkan sebagian lahan yang kini masuk tahap pemulihan berasal dari pengembalian secara sukarela oleh masyarakat. Langkah ini dinilai sebagai bentuk dukungan terhadap penyelamatan salah satu kawasan konservasi penting di Riau.

“InsyaAllah, dengan pendekatan persuasif, dialog yang terbuka, serta kepastian solusi yang adil, ke depan akan semakin banyak masyarakat yang secara sukarela mengikuti langkah serupa,” ujarnya.

Pendataan menyeluruh terhadap penguasaan lahan di dalam kawasan TNTN telah dilakukan. Dari hasil identifikasi, terdata sekitar 10.600 hektare lahan yang dikuasai 3.916 kepala keluarga. Sementara relokasi yang telah berjalan mencapai 633 hektare dengan 227 kepala keluarga.

Pemprov Riau juga telah memetakan kebutuhan lahan alternatif seluas kurang lebih 9.966 hektare. Namun, realisasinya masih memerlukan keputusan pada tingkat kebijakan nasional.

“Kami di daerah siap melaksanakan serta mengawal implementasinya di lapangan agar percepatan pemulihan kawasan tetap berada pada jalur yang telah ditetapkan,” tegas SF Hariyanto.

Ke depan, Tim Percepatan Pemulihan TNTN akan bekerja secara paralel melalui pengamanan dan penertiban kawasan terpadu, penyediaan lahan alternatif dengan kepastian hukum, serta reforestasi berbasis zonasi yang disertai pengawasan berkelanjutan.

Pemprov Riau berharap dukungan kebijakan dan pembiayaan dari pemerintah pusat terus diperkuat agar target pemulihan hingga 2028 dapat berjalan efektif dan konsisten. Dengan sinergi lintas sektor dan partisipasi masyarakat, TNTN diharapkan kembali menjadi benteng konservasi yang utuh dan berfungsi optimal. (*)