Kasus DBD Tembus 779, Dinkes Pekanbaru Minta Warga Gencarkan Gerakan 3M Plus

Kasus DBD Tembus 779, Dinkes Pekanbaru Minta Warga Gencarkan Gerakan 3M Plus
tiga warga dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Pekanbaru, Terbilang.id - Masyarakat Kota Pekanbaru diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Pasalnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekanbaru mencatat sebanyak 779 kasus DBD terjadi sepanjang periode minggu pertama hingga minggu ke-41 tahun 2026.

Dari total kasus tersebut, tiga warga dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Berdasarkan data Dinkes Pekanbaru, Kecamatan Tuah Madani menjadi wilayah dengan jumlah kasus DBD tertinggi, yakni mencapai 119 kasus. Kemudian disusul Kecamatan Marpoyan Damai sebanyak 111 kasus dan Kecamatan Bukit Raya dengan 87 kasus.

Selanjutnya, Kecamatan Tenayan Raya mencatat 74 kasus, Binawidya 65 kasus, Payung Sekaki 61 kasus, Kulim 54 kasus, serta Rumbai sebanyak 52 kasus.

Sementara itu, Kecamatan Lima Puluh mencatat 40 kasus, Rumbai Timur 38 kasus, Sail 21 kasus, Sukajadi 19 kasus, Rumbai Barat 18 kasus, Senapelan 15 kasus, dan Pekanbaru Kota menjadi wilayah dengan jumlah kasus paling sedikit, yakni lima kasus.

Dari tiga kasus kematian akibat DBD tersebut, masing-masing satu orang berasal dari Kecamatan Kulim, Sail, dan Tuah Madani.

Data tersebut memperlihatkan bahwa penyebaran DBD masih terjadi di seluruh kecamatan di Kota Pekanbaru. Tingginya angka kasus di sejumlah wilayah menjadi perhatian Dinkes dalam memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tersebut.

Sekretaris Dinkes Pekanbaru, Dedy Sambudi, mengatakan kondisi ini harus menjadi perhatian bersama. Masyarakat diminta kembali mengintensifkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), menjaga kebersihan lingkungan, serta menerapkan gerakan 3M Plus.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap keluhan demam sebagai penyakit biasa, terutama apabila suhu tubuh tinggi dan kondisi penderita semakin melemah.

"Mungkin awalnya dikira demam biasa, tetapi akhirnya demam tinggi. Setiba di rumah sakit mengalami penurunan trombosit sehingga kondisi sangat lemah," kata Dedy, Selasa (3/11/2026).

Menurutnya, perubahan cuaca dari kondisi panas menuju hujan menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Air hujan yang tertampung di berbagai wadah berpotensi menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama penularan DBD.

Persoalannya, tempat perkembangbiakan nyamuk tidak selalu berupa genangan air berukuran besar. Berbagai wadah dan barang bekas yang berada di sekitar rumah juga dapat menampung air hujan dan menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk.

"Genangan ini yang memicu jentik nyamuk Aedes aegypti berkembang," kata Dedy.

Karena itu, upaya pencegahan DBD tidak cukup hanya dilakukan ketika masyarakat sudah terserang penyakit tersebut. Pengendalian sumber perkembangbiakan nyamuk di lingkungan permukiman harus menjadi perhatian utama untuk menekan risiko penularan.

Dinkes Pekanbaru pun mendorong masyarakat menggiatkan kembali gerakan PSN melalui penerapan 3M Plus.

Dalam gerakan tersebut, masyarakat diminta rutin menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang-barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.

Perhatian khusus juga perlu diberikan terhadap sejumlah barang yang kerap luput dari pemeriksaan, seperti ban bekas, kaleng, ember, serta berbagai wadah lainnya yang berada di halaman maupun sekitar rumah.

"Perhatian juga perlu diberikan terhadap barang-barang yang kerap luput dari pemeriksaan, seperti ban bekas, kaleng, ember dan berbagai wadah lain yang berada di halaman maupun sekitar rumah," jelasnya.

Melalui langkah tersebut, Dinkes berharap kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan semakin meningkat. Partisipasi aktif warga dalam memberantas sarang nyamuk dinilai penting untuk menekan perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD dan mencegah bertambahnya kasus di Kota Pekanbaru. (*)