Serangan Harimau Sumatera Kembali Memakan Korban, BBKSDA Riau Pasang Box Trap Di Pelalawan
Pelalawan, Terbilang.id - Konflik antara manusia dan Harimau Sumatera di Kabupaten Pelalawan kembali memakan korban jiwa. Setelah seorang anak berusia 12 tahun meninggal dunia akibat diduga diserang Harimau Sumatera beberapa hari sebelumnya, kini seorang pekerja bernama Eko Prastio (29) juga ditemukan meninggal dunia setelah diduga menjadi korban serangan satwa dilindungi tersebut di salah satu areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).
Menyikapi insiden tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau langsung memperkuat langkah mitigasi dengan memasang box trap di sekitar lokasi kejadian. Tim juga masih melakukan analisis untuk memastikan apakah dua insiden yang terjadi dalam waktu berdekatan tersebut melibatkan individu Harimau Sumatera yang sama.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala BBKSDA Riau, Laskar Permana, mengatakan pihaknya menerima laporan dari Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Riau yang sejak 7 Juli 2026 telah berada di lapangan untuk menangani konflik Harimau Sumatera di wilayah tersebut.
"BBKSDA Riau kembali menerima laporan dari Tim WRU yang masih berada di lapangan bahwa telah terjadi kembali insiden serangan Harimau Sumatera yang menyebabkan seorang laki-laki berusia 29 tahun meninggal dunia di salah satu areal PBPH di Kabupaten Pelalawan," kata Laskar, Senin (13/7/2026).
Berdasarkan hasil penelusuran Tim WRU, peristiwa tersebut diperkirakan terjadi pada Jumat (10/7/2026) antara pukul 21.00 WIB hingga 02.00 WIB.
Sebelum kejadian, sekitar pukul 19.15 WIB, korban berpamitan kepada rekan sekamarnya untuk mencari sinyal telepon seluler guna menyampaikan agenda pekerjaan melalui grup WhatsApp.
Namun hingga tengah malam korban tidak kembali ke mess. Rekan korban bersama seorang karyawan dan petugas keamanan kemudian melakukan pencarian ke lokasi yang biasa digunakan korban untuk memperoleh sinyal.
Di lokasi itu, mereka menemukan sandal dan headset milik korban, ceceran darah dalam jumlah banyak, bekas seretan menuju semak, serta jejak yang diduga milik Harimau Sumatera.
Laporan tersebut diteruskan kepada Tim WRU BBKSDA Riau sekitar pukul 02.30 WIB. Tim gabungan tiba di lokasi pada pukul 02.52 WIB dan kembali menemukan jejak Harimau Sumatera berukuran sekitar 16 sentimeter × 15 sentimeter, ceceran darah, serta sejumlah barang milik korban.
Pencarian kemudian dilakukan hingga radius sekitar tiga kilometer menggunakan drone thermal dan sorotan lampu halogen. Karena kondisi masih gelap dan mempertimbangkan faktor keselamatan, pencarian dihentikan sementara sebelum dilanjutkan pada pagi harinya.
Korban akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di dalam semak-semak, sekitar 650 meter dari lokasi terakhir ia diketahui berada.
Laskar menjelaskan, lokasi kejadian terbaru berjarak sekitar 6,5 kilometer dari lokasi konflik sebelumnya yang menewaskan seorang anak berusia 12 tahun. Saat ini, tim masih mendalami kemungkinan keterkaitan kedua insiden tersebut.
"Tim saat ini masih menganalisa apakah individu Harimau Sumatera pada kejadian ini merupakan individu yang sama dengan kejadian sebelumnya," ujarnya.
Sebagai langkah penanganan, BBKSDA Riau telah memasang box trap di sekitar lokasi konflik dan meminta perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut memperketat penerapan standar operasional prosedur (SOP) guna meminimalkan risiko terjadinya konflik lanjutan.
BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat, pekerja, dan perusahaan yang beraktivitas di sekitar habitat Harimau Sumatera agar meningkatkan kewaspadaan, terutama pada malam hingga dini hari. Aktivitas seorang diri di kawasan yang berpotensi menjadi lintasan satwa liar diminta untuk dihindari.
"Kami mengimbau masyarakat, pekerja, dan perusahaan yang beraktivitas di sekitar habitat Harimau Sumatera agar tidak beraktivitas seorang diri, terutama pada malam hingga dini hari, memastikan sistem pengamanan camp berfungsi dengan baik, serta segera melaporkan kepada petugas apabila mengetahui keberadaan satwa liar di sekitar lokasi," tegas Laskar.
Ia menambahkan, BBKSDA Riau akan terus melakukan penanganan konflik secara terukur bersama para pemangku kepentingan. Upaya tersebut dilakukan dengan mengedepankan keselamatan manusia sekaligus menjaga kelestarian Harimau Sumatera sebagai satwa yang dilindungi, sehingga penanganan konflik dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan. (*)








