Kasus DBD Di Riau Tembus 2.020 Orang, 14 Pasien Dilaporkan Meninggal Dunia
Pekanbaru, Terbilang.id - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Riau masih menunjukkan tren peningkatan. Hingga pekan ke-21 tahun 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau mencatat sebanyak 2.020 kasus positif DBD tersebar di 12 kabupaten/kota.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 14 pasien dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan perkembangan kasus DBD terus bergerak di sejumlah daerah. Beberapa wilayah yang menjadi perhatian karena tingginya kasus antara lain Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Kota Pekanbaru, dan Kota Dumai.
“Berdasarkan pemantauan kurva suspek DBD melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), terjadi peningkatan kasus suspek DBD pada bulan Mei 2026 dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar Zulkifli, Ahad (7/6/2026).
Menurutnya, peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa potensi penularan DBD masih cukup tinggi di sejumlah wilayah. Karena itu, diperlukan penguatan kewaspadaan dini serta respons cepat dari seluruh pemangku kepentingan untuk menekan penyebaran penyakit tersebut.
Selain kasus terkonfirmasi positif, Dinkes Riau juga mencatat jumlah suspek DBD yang cukup tinggi. Hingga akhir Mei atau pekan ke-21 tahun 2026, jumlah suspek DBD mencapai 3.400 kasus.
Peningkatan jumlah suspek terjadi dalam dua pekan terakhir. Pada pekan ke-20 tercatat penambahan sebanyak 290 kasus suspek, sedangkan pada pekan ke-21 kembali bertambah 271 kasus.
Lonjakan suspek DBD paling banyak ditemukan di Kabupaten Rokan Hilir, Bengkalis, Kota Pekanbaru, dan Kota Dumai.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes Riau bersama dinas kesehatan kabupaten/kota terus melakukan berbagai langkah pengendalian dan pencegahan guna menekan angka penyebaran DBD.
Zulkifli menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan adalah penyelidikan epidemiologi (PE) terhadap setiap kasus yang ditemukan untuk mengetahui sumber dan pola penyebaran penyakit.
Selain itu, petugas kesehatan juga melakukan fogging fokus pada wilayah yang terindikasi terjadi penularan guna mengurangi populasi nyamuk dewasa penyebab DBD.
“Kemudian melakukan fogging fokus pada wilayah dengan indikasi penularan. Penguatan gerakan pemberantasan sarang nyamuk melalui kegiatan 3M Plus. Peningkatan promosi kesehatan dan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan DBD,” jelasnya.
Upaya lainnya yang terus digencarkan yakni monitoring jentik nyamuk secara berkala melalui kader juru pemantau jentik (jumantik), peningkatan kewaspadaan dan pelaporan kasus melalui SKDR serta surveilans rutin di fasilitas pelayanan kesehatan.
Dinas kesehatan di daerah juga memperkuat koordinasi lintas sektor dengan pemerintah kecamatan, kelurahan dan desa, sekolah, hingga fasilitas kesehatan untuk memastikan penanganan DBD berjalan optimal.
Dinkes Riau mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta rutin melakukan gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Langkah pencegahan tersebut dinilai menjadi cara paling efektif untuk menekan penyebaran DBD, terutama di tengah meningkatnya kasus yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. (*)


